Dalam dunia fotografi kita sering kali mendengar istilah Depth ofField atau biasanya disebut dengan DoF. Jika diartikan ke dalam bahasa Inggris, Depth of Field memiliki arti kedalaman ruang. Dalam fotografi, Depth of Field (DoF) adalah luas area pada bidang foto yang memiliki ketajaman lebih tinggi dibandingkan bagian lainnya. 

DoF biasanya diidentikkan dengan Point of Interest (PoI), yaitu area yang menjadi fokus utama dari sebuah foto atau dengan kata lain, area yang ingin ditonjolkan dan menjadi 'bintang utama' dalam sebuah foto. Pada kenyataannya, seringkali pemahaman tentang DoF dikacaukan dengan Bokeh, meskipun DoF dipengaruhi oleh Bokeh (salah satunya) tapi DoF bukanlah Bokeh.
Alfonso Rahardja © 2014 - All Rights Reserved

Apa saja yang mempengaruhi nilai DoF? Dalam sebuah bidang foto, luas area ini dipengaruhi oleh besarnya nilai Arperture (bukaan Diafragma lensa) dan panjang Focal Lens. Berikut ini penjelasannya.
  • Semakin kecil nilai F maka semakin besar bukaan Diafragma lensa, begitu juga sebaliknya. Dengan kata lain, semakin kecil nilai F Stop maka area yang menjadi Depth of Field atau area yang memiliki ketajaman menjadi semakin sempit. Misalnya ketika ingin memotret  Landscape (pemandangan), jika kita ingin foto yang dihasilkan memiliki ketajaman yang kuat pada semua area bidang foto, maka kita dapat menggunakan nilai F/16 atau lebih (angka F Stop besar). Berbeda ketika memotret foto-foto macro dengan objeknya yang kecil, untuk mempersempit DoF maka digunakanlah F Stop dengan angka yang kecil (F/5.6 s/d F/9). Untuk memudahkan dalam memahami, lihat kembali foto di atas. :)
  • Semakin pendek Focal Lens nya maka semakin lebar area yang menjadi Depth of Field nya. Dengan kata lain, semakin pendek Focal Lens yang digunakan pada lensa maka semakin besar area yang memiliki ketajaman. Misalnya ketika ingin memotret Landscape (pemandangan), jika kita ingin foto yang dihasilkan memiliki ketajaman yang kuat pada semua area bidang foto, maka kita dapat menggunakan Focal Lens terpendek (18mm pada lensa kit) atau menggunakan lensa Wide Angle.
  • Setiap lensa memiliki 'Sweet Spot' masing-masing, yaitu nilai F di mana lensa tersebut dapat menghasikan gambar paling tajam. Biasanya berkisar antara F/8 s/d F/10. Hal ini dapat diuji coba dengan cara memotret suatu objek, dengan Shutter Speed, ISO dan angle yang sama namun nilai F nya berbeda-beda lalu perhatikan perubahan Depth of Field dari setiap foto.
  • Perlu diingat bahwa penggunaan nilai F yang besar seperti F/22 atau lebih dapat beresiko menimbulkan defraksi sehingga gambar yang dihasilkan menjadi kurang tajam.

Oke Chek it Out! gan
1.     Bukaan aperture. Semakin kecil bukaan aperture yang digunakan makan akan semakin luas depth of field yang dihasilkan dn sebaliknya.
2.  Jarak pemotretan. Semakin jah jarak  pemotretan maka depth of field pada hasil foto akan semakin luas dan sebaliknya.
3.  Panjang fokus lensa. Semakin besar panjang focus lensa, semakin sempit ruang tajam dan sebaliknya. Mengenai hal ini, pembesaran gambarlah yang lebih berperan dimana semakin jauh  diperbesar  akan semakin memperjelas perbedaan antara daerah gambar  yang masih tajam dan yang tidak.


Gambar 2
Sharp focus merupakan depth of field


Gambar 3
Ilustrasi DoF Bukaan diafragma

Dari sini bisa diambil kesimpulan mengenai Depth of Field:
1.    Depth of Field membentuk persepsi tentang kedalaman ruang pada gambar yang dihasilkan.
2.    Depth of Field yang luas memberikan detail pada latar depan dan latar belakang sehingga cocok  untuk digunakan  dalam pemotretan arsitektur atau pemandangan alam.
3.  Depth of Field yang sempit akan sangat menonjolkan objek utama dari foto tersebut. Cocok digunakan untuk, misalnya foto portrait  seperti dalam contoh.

  
Demikian tadi postingan berjudul 'Tips: MemahamiDepth of Field (DoF)'. Jika masih mengalami kesulitan, silahkan bertanya melalui kotak komentar di bawah. Semoga bermanfaat, terima kasih sudah berkunjung dan membaca artikel di CM Studio.
Salam Fotografi.

Sumber : 1,2
 
Top